Bro pernah nggak sih ngerasain beli produk mahal gara-gara tergiur iklannya, tapi pas udah di tangan, fitur yang paling ditunggu-tunggu malah nggak ada? Nah, itulah yang lagi dialami jutaan pengguna iPhone 16 di Amerika Serikat saat ini.
Apple, perusahaan teknologi paling bernilai di dunia, kini harus duduk di kursi panas. Bukan karena produknya jelek, tapi karena janji mereka soal fitur kecerdasan buatan alias AI di Siri ternyata belum bisa ditepati. Akibatnya? Gugatan hukum kelas besar atau class action resmi dilayangkan ke Apple oleh para penggunanya sendiri.
Gimana cerita lengkapnya? Yuk mimin bahas tuntas!
Apa Itu Apple Intelligence dan Janji Apple ke Pengguna?
Apple Intelligence adalah nama resmi untuk fitur kecerdasan buatan yang Apple perkenalkan bersamaan dengan peluncuran iPhone 16 pada September 2024. Dalam berbagai materi promosi dan keynote-nya, Apple dengan percaya diri menjanjikan pengalaman Siri yang jauh lebih pintar, lebih personal, dan lebih canggih dari sebelumnya.
Beberapa fitur unggulan yang dijanjikan antara lain kemampuan Siri memahami konteks percakapan secara mendalam, integrasi dengan aplikasi pihak ketiga, hingga fitur yang disebut Personal Context — di mana Siri bisa membaca situasi pengguna secara lebih personal untuk memberikan respons yang lebih relevan.
Apple bahkan menegaskan dalam komunikasi resminya bahwa fitur-fitur Apple Intelligence akan “delivered over time and continue to evolve” seiring berjalannya waktu. Pernyataan itulah yang kini menjadi senjata utama dalam persidangan, karena sebagian besar fitur yang dijanjikan saat peluncuran iPhone 16 hingga kini belum juga hadir.
Kenapa Apple Sampai Digugat?
Masalah mulai memanas ketika para pengguna iPhone 16 menyadari bahwa fitur-fitur AI yang selama ini diumbar Apple dalam iklan dan presentasinya ternyata belum tersedia di perangkat mereka. Bukan sekadar telat sedikit, beberapa fitur bahkan sama sekali belum ada kabarnya.
Kekecewaan ini akhirnya berujung pada gugatan class action, di mana para pengguna menuduh Apple telah melakukan misrepresentasi atau penyesatan informasi dalam memasarkan iPhone 16. Mereka merasa membeli iPhone 16 dengan ekspektasi mendapatkan fitur AI canggih yang dijanjikan, namun kenyataannya jauh dari harapan.
Gugatan ini bukan tanpa dasar. Berdasarkan laporan yang beredar di berbagai media teknologi terkemuka seperti MacRumors dan 9to5Mac, Apple disebut secara aktif mempromosikan kemampuan AI Siri sebagai salah satu daya jual utama iPhone 16, sehingga wajar jika konsumen merasa dirugikan ketika fitur tersebut tidak kunjung hadir sesuai ekspektasi yang terbentuk dari kampanye pemasaran mereka.
Bukan Cuma Satu Gugatan — Apple Perang di Banyak Front
Yang bikin kasus ini makin menarik, ternyata Apple tidak hanya menghadapi satu gugatan saja. Secara bersamaan, Apple harus bertarung di beberapa front hukum sekaligus yang datang dari arah berbeda.
Pertama, ada gugatan class action dari konsumen di Los Angeles yang secara khusus menuduh Apple melakukan misrepresentasi atas fitur AI iPhone 16. Para pengguna merasa iklan Apple terlalu menjual fitur yang belum siap, sehingga mereka terdorong membeli perangkat baru dengan ekspektasi yang tidak terpenuhi.
Kedua, dan ini yang paling mengejutkan, para pemegang saham Apple pun ikut menggugat. Dikutip dari laporan Reuters, para shareholders mengklaim bahwa keterlambatan rollout Apple Intelligence telah menyebabkan kerugian nilai saham yang ditaksir mencapai sekitar 900 miliar dolar. Angka yang bukan main-main.
Artinya Apple kini harus menyusun strategi pertahanan hukum yang mampu menjawab tekanan dari dua sisi sekaligus, yakni konsumen biasa yang merasa ditipu oleh iklan, dan para investor besar yang merasa dirugikan secara finansial. Dua audiens berbeda, satu masalah yang sama: janji AI Apple yang belum terwujud.
Respons Apple: Minta Kasus Dibatalkan
Menghadapi tekanan hukum dari berbagai arah, Apple tidak tinggal diam. Pada hari Kamis, Apple secara resmi mengajukan motion to dismiss atau permintaan pembatalan gugatan terhadap class action yang menyasar keterlambatan rollout Apple Intelligence.
Dalam argumen hukumnya, Apple menegaskan bahwa dua fitur Siri yang tertunda tidak cukup kuat untuk menjadi dasar tuntutan hukum sebesar itu. Apple juga menyebut bahwa gugatan yang diajukan masih memiliki banyak celah prosedural, dengan menyatakan bahwa ada numerous other issues dengan complaint yang diajukan penggugat.
Selain itu, Apple berargumen bahwa mereka sejak awal sudah transparan kepada publik. Perusahaan mengklaim telah mengkomunikasikan dengan jelas bahwa fitur-fitur Apple Intelligence akan dirilis secara bertahap dan terus berkembang seiring waktu, bukan sekaligus dalam satu paket saat peluncuran.
Strategi ini cukup masuk akal secara hukum. Jika Apple berhasil membuktikan bahwa mereka tidak pernah membuat janji yang bersifat pasti soal waktu rilis fitur, maka gugatan konsumen bisa kandas di tahap awal persidangan. Namun tentu saja, proses hukum tidak selalu berjalan semulus rencana.
Drama Internal: Bos Siri Dicopot, Fitur Molor ke 2027?
Di balik perang hukum yang sedang berlangsung, ada drama internal di tubuh Apple yang tidak kalah menarik untuk dibahas. Perubahan besar terjadi di jajaran pimpinan tim Siri, di mana John Giannandrea yang sebelumnya menjabat sebagai kepala divisi Siri resmi digeser dari posisinya. Posisi tersebut kini diserahkan kepada Mike Rockwell untuk memimpin pengembangan Siri ke depannya.
Pergantian ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Di industri teknologi, pergantian eksekutif di tengah krisis seperti ini biasanya menjadi sinyal kuat bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana di balik layar.
Menariknya, Luc Julia, salah satu desainer orisinal Siri, pernah mengungkapkan bahwa budaya perfeksionisme yang mengakar kuat di Apple kemungkinan besar menjadi salah satu faktor utama yang memperlambat perilisan Siri versi terbaru. Obsesi Apple terhadap kesempurnaan yang selama ini menjadi keunggulan mereka, kini justru menjadi hambatan di era AI yang bergerak sangat cepat.
Yang lebih mengejutkan, dikutip dari berbagai sumber internal yang beredar di kalangan industri teknologi, sejumlah karyawan di divisi AI Apple sendiri memprediksi bahwa versi Siri yang benar-benar ditingkatkan secara signifikan baru akan hadir paling cepat di iOS 27, yang artinya sekitar tahun 2027. Sementara kompetitor seperti Google dan OpenAI terus meluncurkan pembaruan AI hampir setiap bulan, Apple masih berjuang dengan siklus rilis tahunannya.
Kesimpulan
Kasus gugatan class action terhadap Apple ini sejatinya bukan sekadar soal dua fitur Siri yang telat hadir. Ini adalah cerminan dari benturan dua dunia yang berbeda ritmenya — budaya perfeksionisme Apple yang terkenal dengan filosofi “it just works”, berhadapan langsung dengan dunia AI yang bergerak sangat cepat dan menuntut pembaruan terus-menerus.
Apple mungkin saja menang di pengadilan. Argumen hukum mereka cukup kuat dan celah prosedural dalam gugatan tersebut nyata adanya. Tapi kemenangan di ruang sidang tidak otomatis berarti kemenangan di pasar. Kepercayaan konsumen dan investor adalah aset yang jauh lebih mahal dari biaya pengacara manapun.
Yang bisa bro petik dari kasus ini adalah pelajaran sederhana namun penting — di era teknologi yang bergerak secepat sekarang, janji adalah hutang. Sekelas Apple pun bisa tersandung ketika ekspektasi publik tidak dikelola dengan hati-hati.
Gimana menurut bro? Apakah Apple layak digugat atas keterlambatan ini, atau ini terlalu berlebihan? Tulis pendapat bro di kolom komentar ya!
Jangan lupa share artikel ini ke sesama pengguna Apple di sekitar bro, biar mereka juga tahu perkembangan terbarunya. Pantau terus Gini Caranya Official di gco.co.id untuk informasi teknologi terkini yang disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami!






